Mengenali Diabetes: Gejala Awal, Pencegahan, dan Kapan ke Dokter

Terbit Diperbarui

Diabetes sering datang tanpa gejala jelas. Kenali tanda awal, faktor risiko, cara mencegah diabetes tipe 2, dan kapan Anda sebaiknya memeriksakan diri ke dokter.

Belum ditinjau oleh tenaga medis.Penulis: Gilank Corvinuz · Editor: Gilank CorvinuzNaskah, gambar, dan video disusun dengan bantuan AI, lalu diperiksa redaksi sebelum terbit.
Keranjang berisi buah dan sayur segar di atas bangku taman kayu, dengan sepasang sepatu olahraga di sampingnya.
Ilustrasi dibuat dengan AI.

Apa itu diabetes?

Diabetes, atau diabetes melitus, adalah penyakit ketika kadar gula darah (glukosa) terlalu tinggi. Glukosa adalah sumber energi utama tubuh. Tubuh bisa membuatnya sendiri, tetapi glukosa juga berasal dari makanan yang kita konsumsi. Insulin, hormon yang dibuat pankreas, bertugas memindahkan glukosa dari aliran darah ke dalam sel agar bisa dipakai sebagai energi.

Pada penderita diabetes, tubuh tidak dapat membuat insulin, tidak dapat memakainya dengan baik, atau keduanya. Akibatnya, terlalu banyak glukosa menumpuk di darah dan tidak sampai ke sel. Bila dibiarkan bertahun-tahun, kadar gula darah yang tinggi dapat menimbulkan masalah kesehatan serius.

Menurut WHO, jumlah penderita diabetes di dunia naik dari 200 juta orang pada 1990 menjadi 830 juta orang pada 2022. Kenaikan ini lebih cepat terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah dibandingkan negara berpenghasilan tinggi.

Jenis-jenis diabetes

Ada tiga jenis utama yang perlu dikenali, masing-masing dengan sebab dan pola gejala yang berbeda.

  • Diabetes tipe 1: tubuh membuat sedikit atau tidak sama sekali insulin karena sistem kekebalan menyerang sel penghasil insulin. Jenis ini paling sering mulai pada masa kanak-kanak, tetapi bisa muncul di usia berapa pun. Penderitanya memerlukan insulin setiap hari.
  • Diabetes tipe 2: jenis yang paling umum. Menurut WHO, lebih dari 95 persen penderita diabetes mengidap tipe ini. Tubuh mungkin masih membuat insulin, tetapi sel tidak merespons dengan baik sehingga glukosa sulit masuk ke dalam sel. Jenis ini dulu hampir hanya ditemukan pada orang dewasa, tetapi kini makin sering terjadi pada anak.
  • Diabetes gestasional: muncul saat hamil, ketika tubuh tidak mampu membuat tambahan insulin yang dibutuhkan. Perubahan hormon kehamilan, faktor genetik, dan gaya hidup diduga berperan.

Gejala awal yang perlu diwaspadai

Gejala diabetes tidak selalu sama pada setiap orang, tergantung jenisnya. Pada diabetes tipe 1, gejala biasanya muncul cepat dan bisa berat. Pada tipe 2, gejala berkembang lambat, kadang selama bertahun-tahun, dan bisa begitu ringan sehingga tidak disadari. Karena itu, penyakit ini kerap baru terdiagnosis beberapa tahun setelah mulai, saat komplikasi sudah muncul.

Diabetes gestasional sering tidak menimbulkan gejala sama sekali, atau hanya gejala ringan. Diagnosisnya umumnya ditegakkan lewat pemeriksaan saat hamil, bukan dari keluhan.

  • Buang air kecil lebih sering dari biasanya, termasuk pada malam hari
  • Berat badan turun tanpa sebab yang jelas
  • Kesemutan atau mati rasa pada kaki atau tangan

Siapa yang berisiko dan bagaimana mencegahnya

Menurut MedlinePlus, risiko diabetes tipe 2 lebih tinggi pada orang yang kelebihan berat badan atau obesitas, berusia di atas 35 tahun, memiliki riwayat diabetes dalam keluarga, atau kurang aktif bergerak. Risiko juga meningkat pada orang dengan prediabetes, yaitu kadar gula darah yang lebih tinggi dari normal tetapi belum cukup tinggi untuk disebut diabetes. Faktor lain meliputi riwayat diabetes gestasional, pernah melahirkan bayi dengan berat sekitar 4 kg atau lebih, serta kondisi tertentu seperti tekanan darah tinggi atau sindrom ovarium polikistik (PCOS).

Kabar baiknya, diabetes tipe 2 sering kali dapat dicegah. WHO menyebut perubahan gaya hidup sebagai cara terbaik untuk mencegah atau menunda munculnya penyakit ini. Pola yang sama juga dapat membantu mencegah diabetes gestasional. Untuk diabetes tipe 1, penyebab maupun cara pencegahannya belum diketahui.

  • Capai dan pertahankan berat badan yang sehat
  • Tetap aktif bergerak, setidaknya 150 menit olahraga intensitas sedang setiap minggu
  • Makan makanan sehat dan hindari gula serta lemak jenuh
  • Jangan merokok atau menggunakan tembakau

Kapan perlu ke dokter

Jika Anda mengalami gejala seperti lebih sering buang air kecil, berat badan turun tanpa sebab, atau kesemutan di tangan dan kaki, jangan menunggu. Periksakan diri ke tenaga kesehatan, terutama bila Anda termasuk kelompok berisiko. Gejala diabetes tipe 2 bisa sangat ringan, sehingga tidak adanya keluhan belum tentu berarti aman.

Cara terbaik mendeteksi diabetes sejak dini adalah pemeriksaan rutin dan tes darah di fasilitas kesehatan. Dokter akan memakai satu atau beberapa tes glukosa darah, salah satunya tes A1C. Menurut WHO, pemeriksaan kadar glukosa darah tergolong relatif murah. Diagnosis dini penting untuk mencegah dampak terburuk diabetes tipe 2.

Ibu hamil biasanya menjalani skrining diabetes gestasional pada usia kehamilan 24 sampai 28 minggu. Ikuti jadwal pemeriksaan kehamilan Anda.

Perhatikan pula tanda komplikasi. Diabetes yang tidak terkendali dapat merusak pembuluh darah di jantung, mata, ginjal, dan saraf. Penderita memiliki risiko lebih tinggi terkena serangan jantung, stroke, dan gagal ginjal. Kerusakan pembuluh darah mata dapat menyebabkan hilangnya penglihatan permanen. Masalah pada kaki akibat kerusakan saraf dan aliran darah yang buruk dapat menimbulkan luka borok dan berujung pada amputasi. Bila Anda sudah didiagnosis diabetes, konsultasikan perubahan penglihatan, luka di kaki, atau keluhan lain kepada dokter sesegera mungkin.

Pengelolaan diabetes

Diabetes dapat diobati, dan dampaknya dapat dicegah atau ditunda melalui pola makan, aktivitas fisik, obat-obatan, serta pemeriksaan dan penanganan komplikasi secara teratur. Gaya hidup sehat merupakan salah satu cara terpenting dalam pengelolaan.

Penderita diabetes tipe 1 membutuhkan insulin setiap hari, melalui suntikan atau pompa khusus. Pada tipe 2, sebagian orang dapat mengelola kondisinya lewat perubahan gaya hidup, sementara sebagian lain tetap memerlukan obat. Selain obat penurun gula darah, penderita sering juga membutuhkan obat untuk menurunkan tekanan darah dan statin guna mengurangi risiko komplikasi. Pemeriksaan kadar gula darah secara berkala juga penting. Tanyakan kepada dokter cara dan frekuensi yang tepat untuk Anda.

Perawatan tambahan bisa diperlukan, seperti perawatan kaki, pemeriksaan dan penanganan penyakit ginjal, serta pemeriksaan mata untuk mendeteksi retinopati. Diskusikan semua pilihan pengobatan dengan dokter dan jangan mengubah pengobatan tanpa arahan tenaga kesehatan.

Data WHO menunjukkan lebih dari separuh penderita diabetes berusia 30 tahun ke atas tidak mengonsumsi obat untuk diabetesnya pada 2022. Pemeriksaan dini dan penanganan yang teratur sangat penting agar komplikasi dapat dicegah.

Video singkat

Video ilustrasi dibuat dengan AI.

Artikel ini hanya untuk informasi umum dan bukan pengganti konsultasi, diagnosis, atau pengobatan oleh tenaga kesehatan. Bila ada keluhan, hubungi dokter. Dalam keadaan darurat, hubungi 119 atau IGD terdekat. Baca disclaimer lengkap.